Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Friksi Konsep dan Diskrepansi Arti Seni-1

Karya Nasbahry C. “Indonesia”, Grafis Adobe Photoshop.

Menurut
(Atkins, 1990) dan juga Barnes (2003-9) akar masalah
  friksi dalam
seni, dimulai dari  hal penjabaran dan pengelompokan seni modern. Orang
mulai sibuk membuat kategori masing-masing. Ini kotak seniman, dan ini pendidikan (seni untuk pedidikan) dan bisnis (seni komersial). Timbulnya konsep-konsep baru dalam seni bukan tidak bermasalah.
Bukan saja oleh konsep gaya dan aliran seni, atau oleh keragaman seni dan budaya, friksi itu bisa terjadi karena adanya penekanan-penekanan kepada  
aspek interesting, komersialnya. Kepada aspek visual,  kepada makna dan fungsi seni. Penjelasan
mengenai kategori pengertian seni– kalau kita pelajari dari sejarah seni –akan
berbeda-beda maksudnya. Menurut penulis  friksi yang terjadi pada bidang
seni adalah akibat pencarian konsep, keterbukaan dan kebekuan konsep seni dari
kemungkinan hegemoni bermacam arti dan bermacam motivasi yang melatar
belakanginya.
 


Banyak tulisan berusaha untuk menjelaskan apa itu seni,
tetapi semakin diterangkan, semakin kabur pengertiannya. Hal ini
terjadi karena cara menjelaskannya kurang baik. Seperti yang dikatakan
oleh Atmazaki (2005). Untuk menjelaskan definisi katanya ada tiga
syarat menulis sebuah definisi yang baik dengan langkah: (1) nama istilah atau
konsep harus jelas, (2) menempatkannya dalam suatu kategori, dan (3)
menerangkan perbedaannya dengan anggota lain dalam kategori yang sama. Menurutnya,
sering definisi yang baik dilanjutkan dengan contoh, ilustrasi, atau
kasus.  Menurut Atmazaki, sebuah definisi yang jelek apabila terikat
dengan waktu dan tempat.


Contoh pertama: friksi estetik

Pergeseran konsep bisa saja pada hal yang sederhana.
Misalnya definisi yang ada pada kamus yang biasanya di catat-catat mahasiswa. Seperti contoh di bawah ini. Dalam kamus ditemukan: “Art
(seni)  artinya adalah penciptaan
benda-benda yang indah dengan melibatkan pikiran dan perasaan manusia”.
Definisi ini dikutip dari bahasa asing. Tetapi tidak disertai oleh contoh, kasus
atau ilustrasi yang lengkap, menjadi kurang jelas.

Arts: “creation of beautiful things: the creation of beautiful
or thought-provoking works, e.g. in painting, music, or writing”

Artinya, seni adalah kreasi berbagai hal yang indah, kreasi sesuatu yang cantik atau kerja yang dirangsang oleh pikiran seperti lukisan, musik atau tulisan.

Diskusi: Pengertian seni ini sebenarnya cukup baik tetapi di ramalkan akan terjadi pergeseran makna, atau friksi. (1) Karena tidak ada penjelasan tentang sifat-sifat seni indah itu apa. (2) karena ukuran-ukran keindahan pada lukisan, musik dan sastra misalnya bisa berbeda-beda. (3) Keindahan itu tidak hanya pada seni, pesawat terbang (karya desain) juga bisa indah, alam juga bisa indah. dsb. Kemudian jika pendapat orang yang dipakai tentang sesuatu yang indah dapat berbeda bagi setiap orang. Indah menurut Anda belum tentu indah menurut saya. Ukurannya relatif. Karena itu definisi ini sebaiknya jangan dipakai. Artinya jika Anda membicarakan “keindahan” Anda akan masuk ke wilayah filosofis. Yaitu membicarakan estetika dan hal itu tidak akan pernah selesai jawabannya.

Contoh kedua: friksi oleh kategorisasi
Contoh kedua di bawah mungkin lebih baik, dimana seni (arts) didefinisikan lebih luas, yang dikutip dari Barnes, Bernadine, (2009), tetapi juga bisa menimbulkan masalah karena Visual arts (bahasa Inggris) tidak bisa di terjemahkan langsung kepada “seni rupa” dalam bahasa Indonesia.

“Art, the product of creative human
activity in which materials are shaped or selected to convey an idea, emotion,
or visually interesting form. The word art can refer to the visual arts,
including painting, sculpture, architecture, photography, decorative arts,
crafts, and other visual works that combine materials or forms. We also use the
word art in a more general sense to encompass other forms of creative activity,
such as dance, drama, and music, or even to describe skill in almost any
activity, such as “the art of bread making” or “the art of travel.” In this
article art refers to the visual
arts
.”

“Art, produk dari aktivitas kreatif manusia di
mana bahan dibentuk atau dipilih untuk menyampaikan ide, emosi, atau bentuk
visual yang menarik. Seni kata dapat merujuk pada seni visual, termasuk
lukisan, patung, arsitektur, fotografi, seni dekoratif, kerajinan, dan karya
visual lainnya
yang menggabungkan bahan atau bentuk. Kami juga menggunakan  kata seni  dalam arti yang lebih umum untuk mencakup bentuk-bentuk lain dari
aktivitas kreatif, seperti tari, drama, dan musik, atau bahkan untuk
menggambarkan keterampilan di hampir setiap kegiatan, seperti “seni
pembuatan roti” atau “seni perjalanan. “seni dalam  artikel ini
menunjuk atau mengacu pada seni visual.” 

Diskusi: Contoh kedua ini dapat memperkuat arti  kamus di atas yang mendefinsikan “seni sebagai kegiatan manusia dalam berbagai material, yang dapat mengkomunikasikan ide (konsep-konsep) dan emosi manusia, disertai juga dengan ilustrasi dan kasus. Namun Barnes telah mengadakan kategorisasi seni sebagai seni visual. Dia  membatasi seni dalam uraiannya, agar tidak terjadi salah pengertian.Artinya  dia memagar permasalahannya “bahwa yang dibicarakannya dibatasi hanya pada “visual arts“. Timbul pertanyaan, apa yang dimaksud dengan visual arts apakah sama dengan seni rupa? Apakah maksudnya seni pada seni visual?

Contoh ketiga: Friksi karena terlalu banyak ilustrasi/contoh
Contoh ketiga ini, kalau kita teliti maksudnya memiliki
persamaan dengan yang kedua. Disini sedikit terlihat friksi, pergeseran konsep
karena memberi penekanan bahwa arti seni itu adalah “seni visual”
seperti yang tertera dalam baris  kalimat (t is a term broader than
“art”, which usually means the visual arts
).

“The arts is a broad subdivision of culture, composed of many
expressive disciplines. In modern usage, it is a term broader than
“art”, which usually
means the visual arts
 (comprising
both fine art, decorative art, and crafts). The arts encompasses visual arts,
performing arts, language arts, and culinary arts. Many artistic disciplines
involve aspects of the various arts, so the definitions of these terms overlap
to some degree. (Wikipedia)

“Seni adalah sub bagian yang luas dari budaya, terdiri dari berbagai disiplin ilmu ekspresif. Dalam penggunaan modern, budaya (itu) adalah istilah yang lebih luas daripada “seni”, yang biasanya berarti seni visual (terdiri di antara seni rupa, seni dekoratif, dan kerajinan). Seni meliputi seni visual, seni pertunjukan, seni bahasa, dan seni kuliner. Banyak disiplin artistik melibatkan aspek dari berbagai seni, sehingga definisi dari istilah-istilah ini tumpang tindih untuk beberapa derajat.

Diskusi: Contoh ketiga ini, menjelaskan bahwa penyebutan kata seni
itu lazim dipakai untuk menunjuk yang seni yang visual (tangible). Kita dapat memahami seni itu adalah bagian dari budaya kita, tetapi mungkin kurang memahami bahwa yang ditunjuk seni itu adalah visual arts. Mungkin kita sedikit memahami bahwa semua buku yang memakai
kata arts, maksudnya adalah “visual arts”. Misalnya History of Arts, yang dibahasnya adalah “seni visual” seperti lukisan, patung, keramik, dan tidak ada pembahasan
mengenai musik, tari atau sastra dalam buku itu.

Sebelum kita melanjutkan, kita perlu berhenti sejenak dan
merenungkan definisi-definisi di atas Apakah
tidak terjadi friksi makna dengan definisi seni yang kita kutip selama ini?
Jawabnya bisa tidak meyakinkan.

Contoh-contoh friksi makna itu, diperlihatkan pada bagian lanjut  tulisan ini. Contoh-contoh di
bawah ini, dapat memungkinkan terjadinya friksi makna, misalnya.

Contoh keempat

“Berdasarkan asal katanya,  Sugiwa (1957) 
berpendapat bahwa istilah seni berasal dari kata “sani” yang dalam bahasa
Sanskerta yang berarti pemujaan,  pelayanan, pemberian/persembahan, 
pemintaan atau pencarian dengan hormat dan jujur.” 

Contoh ini
memperlihatkan friksi makna seni sebagai “upacara pemujaan di kuil“. Definisi ini ternyata tidak baik, kerena sesuai dengan petunjuuk Atmazaki di atas, definisi ini membatasi atas waktu, konteks dan kegiatan (dijelaskan di kuil), pembatasan ini menunjukkan definisi yang kurang baik.

Contoh kelima

“Ada juga yang mengatakan bahwa kata seni berasal dari
bahasa Belanda “geniu” atau jenius. Selain daripada itu seni disebut “cilpa”
yang berarti berwarna (kata sifat)  atau pewarna (kata benda), 
kemudian berkembang menjadi cilpacastra yang berarti segala macam kekriyaan
yang artistik (Soedarso,  1988).”

Contoh ini
memperlihatkan friksi makna seni ke kriya” atau “jenius“.
Pergeseran makna terjadi karena kriya dianggap sama dengan seni atau sifat
orang jenius. Disini baik konteks dan kegiatan yang dijelaskan berbeda dengan
kegiatan seni yang akan kita jelaskan  Contoh lainnya lagi.


Contoh keenam

Herbert Read (1893-1968)
mengemukakan seni itu adalah bentuk-bentuk yang menyenangkan

Contoh ini
memungkinkan terjadinya pergeseran makna, karena jurang batas waktu yang lama,
dan munculnya pendapat baru oleh ahli lain. Banyak definisi lainnya, seperti
seni disamping bentuk ekspresi, juga bentuk-bentuk simbolik (Langer, S.K.).
Contoh lainnya tidak usah disebutkan satu persatu. 

Lazimnya definisi yang
dikemukakan tokoh terikat dengan tempat dan waktu, yang dikemudian hari
muncul tokoh lain yang dapat membantah konsep itu.  Menurut penulis seni itu memiliki
sejarah yang panjang, sepanjang waktu itu penulis dan pemikir telah
mengkonsepsikan seni sesuai dengan motivasi dan latar filsafat yang
berbeda-beda.

Pembicaraan teori menurut
tokoh itu penting, jika kita memang membahas sejarah teori seni dari waktu ke
waktu. Misalnya sejarah teori seni dalam konteks perkembangan pendidikan seni. Coba perhatikan kutipan, perhatikan
dua baris kalimat terakhir dari uraiannya sebagai berikut. (Barnes, B, 2009)

“Kita juga dapat menggunakan kata seni dalam pandangan yang
lebih luas dan berbagai bentuk kegiatan kreatif, seperti tari, drama dan musik,
atau pada hampir semua kegiatan yang terkait dengan skill seperti seni memasak
roti, seni perjalanan. Namun dalam artikel ini yang saya maksud adalah “seni visual”

Kesimpulan:


Apa yang penulis bicarakan di atas bukanlah untuk mencari arti seni, jika pembaca ingin mencari pengertian seni yang tepat baca artikel lainnya (di sini), yang menjelaskan seni itu adalah persepsi dan imaji manusia yang dapat melintasi pengertian ke semua jenis seni.


Namun contoh yang dikemukakan
Barnes di atas cukup baik sebab memenuhi tiga syarat oleh Atmazaki, 2005) di
atas. Strateginya adalah s
etelah mendefinisikan seni secara benar, langkah
selanjutnya m
emberi
penekanan
, sebab harus jelas apa  yang menjadi pokok pembicaraan
tentang seni itu.
  Jadi jika yang
dibicarakan adalah musik. Katakan definisi seni lebih dahulu, lalu pembicara
harus memberi penekanan misalnya tentang musik.


Posting Komentar untuk "Friksi Konsep dan Diskrepansi Arti Seni-1"